Pertanyaan Ini sering ditanyakan oleh calon nasabah saat penulis menjelaskan tentang menabung saham. Seakan mereka belum percaya kalau nabung atau berinvestasi di saham dapat mendatangkan keuntungan atau hasil yang jauh melebihi inflasi. Ketidakpercayaan itu beralasan karena selama ini kita hanya mengenal istilah menabung di bank, bukan di tempat atau instrumen keuangan lain. Karena itu, istilah menabung saham merupakan istilah yang jarang kita dengar.

Istilah menabung saham diperkenalkan oleh PT.IDX sebagai otoritas bursa saham di Indonesia dengan istilah “Yuk Nabung Saham” di awal tahun 2016 ( setahun yang lalu ), dengan maksud supaya masyarakat Indonesia mengenal saham sebagai salah satu tempat atau instrument keuangan dimana mereka bisa menabungkan uangnya, seperti di bank. Selain itu, untuk meningkatkan proporsi investor domestik di pasar modal, dimana tahun 2015 jumlah transaksi investor asing masih menguasai kurang lebih 40% transaksi di bursa efek Indonesia ( Data : IDX 2015 ). Mungkin kita bisa mengira kalau jumlah transaksi investor domestik lebih besar berarti tidak ada masalah donk. Belum tentu. Meskipun jumlah transaksi investor domestik lebih besar dari investor asing tapi, menurut perkiraan penulis, bisa jadi jumlah investor asingnya lebih sedikit daripada investor domestiknya. Dengan begitu, sekalipun secara jumlah, investor asing lebih sedikit, tapi dana mereka lebih besar daripada investor dosmetik. Dengan dana yang begitu besar, mereka akan sanggup menggerakkan arah pergerakkan saham semau mereka. Ini yang tentunya tidak dikehendaki oleh IDX, sebagai “penjaga gawang” bursa di Indonesia.

Tentu kita akan bertanya, mengapa kok menabung ke saham? Jika kita ingin berinvestasi, tentu yang diharapkan adalah hasil yang tentunya lebih tinggi daripada inflasi. Data BI menunjukkan inflasi bulan Februari 2017 adalah sebesar 3,83%, berarti jika hasil tabungan atau investasi kita dibawah itu, maka kita akan rugi karena nilai uang kita akan turun. Saham mampu memberikan hasil melebihi inflasi.

Beberapa orang ketakutan untuk menabung di saham karena takut rugi, bahkan uangnya hilang, alih-alih dapat untung. Ketakutan ini wajar karena ketidaktahuan dalam bertransaksi saham. Saya ambil contoh saham salah satu perusahaan consumer good Unilever ( UNVR ), selama masih banyak ibu rumah tangga yang cuci pakaian pakai bubuk cuci Rinso, selama masih banyak koki atau ibu rumah tangga masak pakai margarine Blue Band, dan masih banyak orang yang memakai shampoo merk Clear, perusahaan Unilever akan tetap berdiri dan meraih keuntungan.

Pertanyaan paling utama adalah berapa keuntungan yang didapat jika menabung saham? Tidak ada satu patokan baku berapa keuntungan yang didapat, bisa 10%, 15%, 25%, 40%, tergantung pertumbuhan harga saham yang dipilih, karena itu diperlukan strategi “membagi telur dalam beberapa keranjang”

Untuk penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi Galeri Investasi Terang Bangsa di jam kerja.

“Salam Investasi”