Awal tahun 2016, Bursa Efek Indonesia meluncurkan program bertajuk “Ayo Menabung Saham”. Program yang diluncurkan sebagai upaya untuk menambah penetrasi jumlah nasabah yang bertransaksi di bursa saham Indonesia. Berikut adalah data jumlah investor di kawasan ASEAN :

NEGARA JUMLAH INVESTOR
Malaysia 2.500.000 (8.17% dari total penduduk)
Singapore 1.600.000 (29.3% dari total penduduk)
Thailand 1.100.000 (1.6% dari total penduduk)
Filipina 640.665 (0.64% dari total penduduk)
Indonesia 462.628 (0.17% dari total penduduk)

Sumber : IDX

Dari data diatas terlihat jelas kalau jumlah investor saham di Indonesia jauh tertinggal, bahkan dibandingkan dengan Philipina sekalipun, baik dari segi jumlah maupun prosentase dari total penduduk. Ketertinggalan ini yang menyebabkan IDX meluncurkan program Ayo Menabung Saham.

Cara menabung saham sama seperti kita menabung di rekening tabungan di bank, hanya kalau dalam konteks ini, adalah kita membeli saham. Cara terbaik untuk menabung saham dengan hasil maksimal adalah kita membeli saham dengan jumlah rupiah yang tetap dalam jangka waktu yang tetap

(atau yang dinamakan DCA – Dollar Cost Averaging). Misal kita hendak menabung di rekening saham sejumlah Rp500.000 dengan periode waktu per awal bulan, sedangkan harga saham X yang akan kita beli berfluktuatif harganya.

Bulan Harga Rp Jumlah lembar saham
Januari 5.000 100
Februari 5.050 99
Maret 5.100 98
April 5.150 97
Mei 5.050 99
Juni 4.950 101
Juli 4.900 102
Agustus 4.850 103
September 4.800 104
Oktober 4.900 102
November 4.950 101
Desember 5.000 100
Jumlah 1.206

Dari perhitungan diatas, jika kita mulai nabung saham pada bulan Januari dan ternyata pada bulan Desember harga tidak berubah atau sama seperti awal bulan, kita tetap akan mendapat untung karena jumlah saham yang kita dapat lebih besar, yaitu 1.206 lembar saham. Jadi ada untung sebesar 6xRp5.000, yaitu sebesar Rp30.000.

Sekalipun begitu ada kekurangan dari sistem nabung saham ini. Dengan dana yang terbatas, kita Cuma bisa beli beberapa jenis saham saja, apalagi jika saham tersebut merupakan saham blue chips yang harganya diatas Rp 10.000 per lembar. Dengan ukuran minimal 1 lot 100 lembar saham, maka dibutuhkan minimal Rp1.000.000 untuk membeli 1 lot. Padahal ada ungkapan di dunia investasi,”jangan menempatkan telur di satu keranjang”, karena jika keranjang tersebut jatuh, maka pecah semua telurnya. Trus, gimana solusinya donk?

Beberapa hal dapat menjadi solusi, salah satunya adalah tetap fokus membeli saham dari satu emiten saja. Tapi pertimbangkan benar-benar saham emiten yang akan dipilih, baik dari sisi fundamental, likuiditas saham, maupun teknikalnya.

Menabung saham dapat jadi pertimbangkan untuk menumbuhkan aset dan tabungan untuk persiapan pensiun. Akhir kata penulis mengajak pembaca, sesuai program IDX, Ayo Menabung Saham.

Untuk informasi dan pertanyaan, dapat hub penulis di 081802409696

            Salam Investasi

 

Gunadi Laksono, GALERI INVESTASI TERANG BANGSA